Prof. Abdul Malik Bacakan Puisi “DERITA REMPANG” pada PULARA 2025 di Malaysia

Lumut, Perak (Malaysia) — Festival Puisi dan Lagu Rakyat Antarabangsa (PULARA) 2025 kembali digelar dari 23 hingga 25 Oktober 2025 dengan meriah di Lumut, Perak, Malaysia. Acara ini merupakan salah satu festival seni dan budaya terbesar di kawasan Asia Tenggara, yang mempertemukan penyair, budayawan, dan penggiat seni dari berbagai negara. PULARA 2025 diselenggarakan oleh Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia serta berbagai institusi seni dan akademik internasional.
Dalam kesempatan ini, Prof. Dr. H. Abdul Malik, M.Pd., akademisi dari Indonesia yang dikenal sebagai penyair dan peneliti bahasa dan sastra, turut hadir mewakili Indonesia. Ia berbincang hangat dengan Naib Canselor (Rektor) Universiti Pendidikan Sultan Idris, Prof. Datuk Dr. Md Amin Md Taff, dan sejumlah undangan dari Malaysia dan Indonesia sebelum acara puncak dimulai. Salah satu momen yang menyita perhatian adalah pembacaan puisi karya Prof. Abdul Malik bertajuk “Derita Rempang” yang menggambarkan kesedihannya atas perampasan tanah Rempang — sebuah refleksi pribadi dan kritik terhadap isu sosial yang menyentuh hak-hak masyarakat lokal di Kepulauan Riau.

Pembacaan puisi tersebut mendapat sambutan hangat dari peserta dan penonton, karena selain menyajikan kekuatan estetika bahasa, karya itu juga memuat narasi emosional tentang kehilangan tanah, ruang hidup, dan identitas budaya bagi komunitas yang terdampak. Melalui ‘Derita Rempang’, Prof. Abdul Malik menyuarakan kepedulian atas isu-isu agraria dan sosial yang terjadi di tanah air, sekaligus menghubungkannya dengan tradisi puisi rakyat yang kuat dalam festival ini.

Acara PULARA 2025 sendiri menampilkan beragam kegiatan seperti narasi puisi, puncak puisi, forum budaya, serta pertunjukan seni yang melibatkan seniman dan akademisi dari berbagai negara. Festival ini tidak hanya menjadi pentas seni, tetapi juga wadah dialog budaya dan pendidikan yang mengangkat nilai-nilai kemanusiaan serta keindahan bahasa sebagai medium penyatuan bangsa dan komunitas internasion.

Artikel Lainnya